LAPORAN SEJARAH
KEGITAN PEMBELAJARAN LUAR KELAS
DI BALAI INFORMASI DAN KONSERVASI KEBUMIAN KARANGSAMBUNG
Di susun oleh :
Nama : Nurul
Laeli Fajriah
Kelas : X – 4
No : 19
SMA NEGERI JATILAWANG
TAHUN 2014 / 2015
PENDAHULUAN
Kata Pengantar
Puji syukur
kehadirat Allah SWT atas segala karunia, rahmat, dan hidayah yang telah
dilimpahkan, sehingga Laporan Hasil Pembelajaran Luar Kelas ini dapat
terselesaikan dengan baik. Penyajian laporan ini dimaksudkan sebagai upaya
menggali pengetahuan siswa tentang
pengetahuan geologi, terutama mengenai proses terbentuknya Pulau Jawa serta
bukti – buktinya.
Laporan ini
merupakan hasil pengamatan pada pembelajaran luar kelas yang dilaksanakan oleh
siswa kelas X SMA Negeri Jatilawang di Karang Sambung pada tanggal 10 Maret
2015. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan mampu meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran guna mendukung prestasi belajar
yang lebih baik.
Dalam
penyajiannya, penulis menyadari bahwa terselesaikannya laporan ini mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, ijinkanlah penulis menyampaikan
ucapan terimakasih yang mendalam kepada :
1.
Bapak
Drs. Ananto Nur Semedi selaku Kepala SMA Negeri Jatilawang yang telah
memberikan izin bagi terlaksananya kegiatan ini.
2.
Ibu
Susanti, S.Pd selaku guru mata pelajaran Sejarah yang telah membimbing kami
dalam menyelesaikan laporan.
3.
Teman
– teman kelas X yang telah memberikan dukungan dan perhatiannya selama proses
pengamatan berlangsung.
4.
Semua
pihak yang telah mendukung dan membantu dalam penulisan penyusunan laporan yang
tidak dapat disebutkan satu per satu.
Akhirnya,
penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan
guna penyempurnaan penyusunan laporan mendatang.
Jatilawang,
Maret 2015
Penulis
Nurul
Laeli F.
ISI
1.
Study
Pustaka
Kepulauan
Indonesia terbentuk melalui proses yang sangant panjang yang diperkirakan sejak
zaman tersier sekitar 60 juta tahun lalu. Kepulauan Indonesia terbrntuk dari
rangkaian aktivitas tektonik yang sangat kuat karena terletak di titik
pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Indo-Australia di selatan, lempeng
Eurasia di utara, dan lempeng Pasifik di timur.
Pergerakan
tektonis pada zaman itu telah menggerakan ketiga lempeng tersebut. Daratan
menjadi terpecah – pecah. Sebagian dari benua Asia bergerak kea rah selatan
membentuk Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, serta pulau – pulau di
Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Banda. Sebagian pecahan dari Benua Austrslia
bergerak ke utara, membentuk Pulau Timor, Kepulaun Nusa Tenggara Timur, Pulau
Papua, dan sebagian Maluku Tenggara. Aktivitas ini menjadikan Indonesia rawan
terjadi gempa.
Pada
zaman pleistosen sebagian daratan di dunia tertutup oleh es. Peristiwa ini
menyebabkan perubahan iklim dan penurunan permukaan air laut hingga 100 – 150 m
dari titik semula sehingga laut menjadi dangkal dan menjadi daratan. Bagian
barat kepulauan Indonesia masih bergabung dengan Asia Tenggara ( Paparan Sunda
) dan bagian timur kepulauan Indonesia masih bergabung dengan daratan Australia
( Paparan Sahul ). Keduanya dipisahkan oleh zona Wallace yang kini menjadi
wilayah Sulawesi, kedua paparan.
Akiabat
proses interglasiasi ( pencairan kembali air laut ) pada periode holosen
sebagian daratan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa tenggelam menjadi laut dangkal
dan menyebabkan pemisahan Indonesia bagian barat dengan wilayah Benua Asia.
Sedagkan wilayah Indonesia bagian timur terpisah dari Benua Australia. Oleh
karena itu, jenis flora dan fauna wilayah Indoesia bagian barat memiliki
kemiripan dengan jenis flora dan fauna di Asia daratan. Sementara flora dan
fauna Indonesia bagian timur sama dengan flora dan fauna Australia darat.
Di
Indonesia terdapat lima pulau besar yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,
dan Papua. Di wilayah Indonesia terdapat lebih dari 400 gunung api, 130
diantaranya termasuk gunung api aktif. Proses pembentukan pulau – pulau
Indonesia yaitu sebagai berikut :
1)
Pulau
Sumatra
Pulau Sumatra terletak di zona tumbukan
antara lempeng Indo – Australia dan Lempeng Eurasia sehingga secara geografis
merupakan wilayah yang tidak stabil dan rawan gempa. Menurut pakar geolgi,
Pulau Sumatra terbentuk dari pecahan Benua Eurasia yang diakibatkan oleh
aktivitas tektonik lempeng Indo – Australia dan Lempeng Eurasia.
Di bagian barat Sumatra terdapat
deretan Pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari utara hingga selatan.
Deretan pegunungan tersebut memiliki 93 puncak gunung yang melampaui ketinggian
2000 m. puncak gunung tertinggi di wilayah ini adalah Gunung Kernci dengan
ketinggian 3.805 m. di sebelah utara deretan Bukit Barisan terdapat danau
kawah, yaitu Danau Toba yang terbentuk sekitar 75.000 tahun lalu akibat letusan
gnung api yang sangat hebat. Di sebelah timur Bukit Barisan terbentang wilayah
dataran rendah yang luas. Wilayah ini dilalui Sungai Musi, Sungai Batanghari,
Sungai Roken, Sungai Indragiri, Sungai Siak, dan Sungai Kampar.
2)
Pulau
Jawa
Pulau Jawa memiliki deretan gunungapi
aktif berajajar tidak teratur di sepanjang pulau seperti Gunung Galunggung di
Jawa Barat, Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta
Gunung Semeru di Jawa Timur. Secara geologis Pulau Jawa merupakan rawan gempa
karena terpengaruh tumbukan lempeng Eurasia dan lempeng Indo – Australia yang
melalui proses subduksi.
Batuan dasar di Pulau Jawa
diperkirakan terbentuk pada 70 – 35 juta tahun yang lalu. Batuan tersebut
tersusun atas batuan malihan dan batuan beku. Batuan dasar di Jawa Barat lebih
tua dibandingkan batuan dasar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini disebabkan
batuan di Jawa Tengah dan Jawa Timur terbentuk pada akhir proses tumbukan
antara lempeng Eurasia dan Indo – Australia yang berlangsung sekitar 20 juta
tahun lalu. Peristiwa ini mengakibatkan lempeng Indo – Australia terdesak ke
bagian bawah lempeng Eurasia. Pada peristiwa tumbukan tersebut, wilayah Jawa
Tengah dan Jawa Timur masih berupa lautan. Bukti bahwa wilayah tersebut lautan
yaitu banyak gunung gamping di bagian selatan Pulau Jawa. Gunung Gamping
tersebut dahulunya merupakan terumbu karang di lautan. Kondisi ini masih
berlangsung hingga sekarang dan menyebabkan terbentuknya deretan gunung api di
sebelah barat Pulau Sumatra dan sebelah selatan Pulau Jawa.
3)
Pulau
Kalimantan
Secara geologis, wilayah Kalimantan
relative aman dari bencana gempa karena tidak dilewati oleh jalur lempeng
tektonik. Wilayah Pulau Kalimantan memiliki permukaan datar, kecuali Pegunungan
Meratus di tenggara Pulau Kalimantan dan Gunung Kinabalu di utara, sebagian
besar wilayah Kalimantan memiliki ketinggian kurang dari 2.000 meter diatas
permukaan laut.
Pulau Kalimantan terbentuk dari
pecahan benua raksasa pada masa awal terbentuknya permukaan bumi. Dahulu di
bumi hanya terdapat stu daratan luas yang bernama Pangaea. Akibat aktivitas
tektonik Benua Pangaea terpecah menjadi dua yaitu Gondwana di utara dan Laurasia
di selatan. Selanjutnya, kedua benua tersebut terpecah – pecah lagi menjadi
benua – benua seperti sekarang. Salah satu pecahan tersebut kemudian menjadi
Pulau Kalimntan.
4)
Pulau
Sulawesi
Pulau Sulawesi merupakan kunci untuk
memahami runtutan terjadinya peristiwa tektonik. Pembentukan Pulau Sulawesi
memliki proses yang kompleks yaitu sebagai berikut :
a.
Periode
Eosen ( 65 – 40 Juta Tahun Lalu )
Terjadi proses tumbukan antara dua
daratan di dekat Pulau Kalimantan yang bersatu menjadi satu dartan baru.
b.
Periode
Miosen ( 40 – 20 Juta Tahun Lalu )
Terjadi pergerakan lempeng ke arah
barat disertai persesaran.
c.
Periode
Pliosen ( 15 – 6 Juta Tahun Lalu )
Proses tektonik masih terus
berlangsung hingga mendekat ke barat ke Pulau Kalimantan.
d.
Periode
Pleistosen ( 4 – 2 Juta Tahun Lalu )
Terjadi proses pemekaran dasar
samudra di laut antara Kalimantan dan Sulawesi yang dikenal sebagai Selat
Malaka. Akhirnya daratan Sulawesi terpisah dari dartan Kalimantan. Sampai
sekarang masih berlangsung pergerakan tersebut secara perlahan dan konsisten.
5)
Pulau
Papua
Pulau Papua terbentuk dari sedimen
bebatuan yang diendapkan oleh Benua Australia yang selanjutnya menjadi daratan
baru yang menyatu dengan Benua Australia.
Terjadi proses tumbukan antara
lempeng Indo – Australia dan lempeng Pasifik yang mengangkat sedimen batuan
Pulau Papua ke atas laut. Tumbukan kedua lempeng tersebut menghasilkan busur
pulau yang menjadi cikal bakal dari pegunungan di Papua. Pulau ini mulai
terpisah dari daratan Australia sejak mencairnya es yang menaikkan permukaan
air laut sehingga daratan rendah diantara Papua dan Australia tenggelam dan
Papua terpisah dari Benua Australia.
2.
Hasil
Observasi
Di Karang Sambung kami mengunjungi 6 tempat yaitu :
1)
Kali
Muncar
Kali Muncar berada di desa Seboroh,
Kec. Sadang. Di Kali Muncar terdapat singkapan batuan Pillow Lava yang
merupakan batuan basalt, termasuk batuan beku. Disebut pillow lava karena
menpunyai struktur menyerupai bantal. Singkapan batuan ini berada diatas
batauan rijang berselang – seling dengan gamping merah yang termasuk batuan
sedimen. Cara membedakan antara gamping merah dan rijang yaitu dengan ditetesi
larutan HCl, apabila berbuih merupakan batan gamping merah dan apabila tidak
berbuih merupakan rijang. Berbuih karena ada reaksi HCl dengan CaCO3. Batuan
ini dulunya berada di dasar samudra. Karena adanya tumbukan benua indo –
Australia dan Eurasia batuan yang tadinya berada di dasar samudra kemudian
terangkat ke atas dan menjadi diatas bukit. Pillow lava terbentuk dari gunung
laut yang meletus kemudian mengeluarkan lava, karena suhu air laut sangat
dingin lava tersebut kemudian membeku. Pada batuan rijang terdapat urat – urat
yang disebut urat kuarsa. Batuan rijang mengandung fosil – fosil yang sangat
kecil yang disebut radiolaria. Fosil – fosil berukuran sangat kecil karena
dahulunya merupakan di dasar samudra yang tidak terkena sinar matahari
langsung.
2)
Desa
Pucangan
Di
Desa Pucangan terdapat singkapan batuan serpentinit yang termasuk batuan
metamorf. Singkapan ini merupakan akibat dari penunjaman dan pengangkatan
lantai samudra. Warna batu ini kehijau mengkilap karena gesekan tersebut. Batu
serpentinit dapat digunakan untuk asbes dan bahan dasar bedak. Batuan
serpentinit merupakan batuan yang dulunya berada di bawah rijang dan pillow
lava.
3)
Daerah
Bukit Sipako
Batuan di daerah Bukit Sipako
merupakan lempeng benua. Letak singkapan ini berada di seberang sungai Luk Ulo
yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Bukit sipako tersusun atas
batuan filit yang merupakan ubahan dari batu lempung. Batu ini berguna sebagai
isi pensil.
Di tepi sungai Luk Ulo terdapat banyak batuan diantaranya yaitu
batuan sekismika, rijang, gamping merah, kuarsit, generis.
4)
Gunung
Parang
Gunung Parang terletak di Desa Watu
Tumpang. Jenis batuan yang ada yaitu batu diabas. Batuan ini merupakan lempeng
benua dan merupakan batuan beku dalam
yang memiliki kolumnar join ( struktur kekar tiang ). Berfungsi sebagai pondasi
rumah.
5)
Museum
Peraga Batuan dan Bengkel Batuan
Museum Peraga Batuan terletak dan
Bengkel Batuan terletak di kantor LIPI. Di dalam museum terdapat banyak batuan
– batuan yang sudah dijumpai di lapangan yang telah dimusiumkan serta fosil –
fosil kerang, peta atau miniature Karang Sambung, miniatur bumi, dan lain –
lain yang masing – masing telah diberi keterangan.
Di Bengkel Batuan terdapat banyak
batuan yang dibuat kerajianan seperti kalung, batu akik, serta batu yang dibuat
kerajinan lain.
3.
Pembahasan
Pada
zaman Tersier sekitar 60 juta tahun lalu, kepulaun Indonesia terbentuk karena
adanya rangkaian pergerakan lempeng tektonik yang sangat kuat karena merupakan
titik pertemuan tiga lempeng yaitu Lempeng Eurasia, Indo – Australia, dan
Pasifik. Aktifitas tektonik tersebut menggerakan ketiga lempeng itu yang
akhirnya daratan menjadi terpecah –
pecah menjadi benua – benua. Salah satu daratan yang terbentuk akibat
pergerakan lempeng tektonik tersebut adalah
Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, dan Pulau
Papua.
Pada
zaman Pleistosen, daratan kepulauan Indonesia tertutup oleh lapisan es.
Peristiwa ini mengakibatkan perubahan iklim dan penururnan permukaan air laut
hingga 100 – 150 m dari titik semula
sehingga laut menjadi dangkal dan laut berubah menjadi daratan. Hal ini dapat
dibuktikan melalui hasil Pembelajaran Luar Kelas yang dilaksanakan di Karang
Sambung, yaitu dengan adanya pillow lava yang dahulunya merupakan lava yang
keluar dari letusan gunung laut yang akhirnya memebeku karena suhu air laut
yang sangat dingin. Pillow lava dahulunya berada di dasar samudra, namun
sekarang berada di atas bukit karena terjadinya pergerakan lempeng yaitu
Eurasia dan Indo – Australia. Batuan pillow lava berada diatas bat rijang
berselang – seling gamping merah. Batu rijang mengandung fosil radiolaria yang
dulunya hidup di dasar samudra dengan ukuran sangat kecil karena tidak terkena
sinar matahari langsung. Sedangkan gamping merah merupakan terumbu karang. Hal
ini membuktikan bahwa yang sekarang daratan dahulunnya adalah lautan.
Pada periode Pliosen
terjadi pergerakan tektonis yang menyebabkan terangkatnya permukaan bumi yang
dibuktikan dengan adanya batuan serpentinit di Desa Pucangan yang merupakan
dahulunya adalah kerak samudra yang mengalami penunjaman kemudian terangkat ke
atas. Batuan – batuan lain yang dapat dijumpai di museum batuan dan dapat menjadi bukti adalah batu gamping
numulites, lempung berfosil orbitula, dan batu gamping berbentuk keong.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian diatas,
dapat disimpulkan bahwa Pulau Jawa terbentuk karena adanya tenaga tektonik yang
diakibatkan oleh dua lempeng yaitu Lempeng Eurasia dan Indo - Australia yang
menyebabkan pergeseran yang awal mulanya Pulau Jawa adalah pecahan dari Benua
Asia. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai jenis batuan yang diamati di
Karang Sambung.
DAFTAR PUSTAKA
Djaja Wahjudi, Mulyadi, Rahata Ringgo. 2014. Sejarah Indonesia. Klaten.
Intan Pariwara.
LAMPIRAN
1.
Kali
Muncar
a.
Pillow
Lava
b.
Singkapan
Batuan Rijang Berselang – seling Gamping Merah
c.
Bongkahan sekismika
2.
Desa
Pucangan
a.
Serpentinit
3.
Bukit
Sipako
a.
Batuan
Filit
b.
Batuan
di Tepi Sungai Luk Ulo
·
Batu
sekismika
·
Batu
Konglomerat
·
Batu
Kuarsit
·
Batu
Pasir
·
Batu
Gneiss
·
Rijang
·
Gabbro
4.
Gunung
Parang
·
Batu
Diabas
5.
Museum
Batuan dan Bengkel Batuan
·
Batu
Gamping Numulites
·
Batu
Lempung Berfosil Orbitulina
·
Sekismika
·
Fosil Kerang