Kamis, 29 Oktober 2015

laporan geografi karang sambung



LAPORAN SEJARAH
KEGITAN PEMBELAJARAN LUAR KELAS
DI BALAI INFORMASI DAN KONSERVASI KEBUMIAN KARANGSAMBUNG













Di susun oleh :
Nama               : Nurul Laeli Fajriah
Kelas               : X – 4
No                   : 19


SMA NEGERI JATILAWANG
TAHUN 2014 / 2015
PENDAHULUAN
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala karunia, rahmat, dan hidayah yang telah dilimpahkan, sehingga Laporan Hasil Pembelajaran Luar Kelas ini dapat terselesaikan dengan baik. Penyajian laporan ini dimaksudkan sebagai upaya menggali pengetahuan  siswa tentang pengetahuan geologi, terutama mengenai proses terbentuknya Pulau Jawa serta bukti – buktinya.
Laporan ini merupakan hasil pengamatan pada pembelajaran luar kelas yang dilaksanakan oleh siswa kelas X SMA Negeri Jatilawang di Karang Sambung pada tanggal 10 Maret 2015. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran guna mendukung prestasi belajar yang lebih baik.
Dalam penyajiannya, penulis menyadari bahwa terselesaikannya laporan ini mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, ijinkanlah penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang mendalam kepada :
1.      Bapak Drs. Ananto Nur Semedi selaku Kepala SMA Negeri Jatilawang yang telah memberikan izin bagi terlaksananya kegiatan ini.
2.      Ibu Susanti, S.Pd selaku guru mata pelajaran Sejarah yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan laporan.
3.      Teman – teman kelas X yang telah memberikan dukungan dan perhatiannya selama proses pengamatan berlangsung.
4.      Semua pihak yang telah mendukung dan membantu dalam penulisan penyusunan laporan yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan penyusunan laporan mendatang.

                                                                                                            Jatilawang, Maret 2015
                                                                                                            Penulis

Nurul Laeli F.




ISI
1.     Study Pustaka
Kepulauan Indonesia terbentuk melalui proses yang sangant panjang yang diperkirakan sejak zaman tersier sekitar 60 juta tahun lalu. Kepulauan Indonesia terbrntuk dari rangkaian aktivitas tektonik yang sangat kuat karena terletak di titik pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Indo-Australia di selatan, lempeng Eurasia di utara, dan lempeng Pasifik di timur.
Pergerakan tektonis pada zaman itu telah menggerakan ketiga lempeng tersebut. Daratan menjadi terpecah – pecah. Sebagian dari benua Asia bergerak kea rah selatan membentuk Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, serta pulau – pulau di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Banda. Sebagian pecahan dari Benua Austrslia bergerak ke utara, membentuk Pulau Timor, Kepulaun Nusa Tenggara Timur, Pulau Papua, dan sebagian Maluku Tenggara. Aktivitas ini menjadikan Indonesia rawan terjadi gempa.
Pada zaman pleistosen sebagian daratan di dunia tertutup oleh es. Peristiwa ini menyebabkan perubahan iklim dan penurunan permukaan air laut hingga 100 – 150 m dari titik semula sehingga laut menjadi dangkal dan menjadi daratan. Bagian barat kepulauan Indonesia masih bergabung dengan Asia Tenggara ( Paparan Sunda ) dan bagian timur kepulauan Indonesia masih bergabung dengan daratan Australia ( Paparan Sahul ). Keduanya dipisahkan oleh zona Wallace yang kini menjadi wilayah Sulawesi, kedua paparan.
Akiabat proses interglasiasi ( pencairan kembali air laut ) pada periode holosen sebagian daratan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa tenggelam menjadi laut dangkal dan menyebabkan pemisahan Indonesia bagian barat dengan wilayah Benua Asia. Sedagkan wilayah Indonesia bagian timur terpisah dari Benua Australia. Oleh karena itu, jenis flora dan fauna wilayah Indoesia bagian barat memiliki kemiripan dengan jenis flora dan fauna di Asia daratan. Sementara flora dan fauna Indonesia bagian timur sama dengan flora dan fauna Australia darat.
Di Indonesia terdapat lima pulau besar yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Di wilayah Indonesia terdapat lebih dari 400 gunung api, 130 diantaranya termasuk gunung api aktif. Proses pembentukan pulau – pulau Indonesia yaitu sebagai berikut :
1)      Pulau Sumatra
Pulau Sumatra terletak di zona tumbukan antara lempeng Indo – Australia dan Lempeng Eurasia sehingga secara geografis merupakan wilayah yang tidak stabil dan rawan gempa. Menurut pakar geolgi, Pulau Sumatra terbentuk dari pecahan Benua Eurasia yang diakibatkan oleh aktivitas tektonik lempeng Indo – Australia dan Lempeng Eurasia.
Di bagian barat Sumatra terdapat deretan Pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari utara hingga selatan. Deretan pegunungan tersebut memiliki 93 puncak gunung yang melampaui ketinggian 2000 m. puncak gunung tertinggi di wilayah ini adalah Gunung Kernci dengan ketinggian 3.805 m. di sebelah utara deretan Bukit Barisan terdapat danau kawah, yaitu Danau Toba yang terbentuk sekitar 75.000 tahun lalu akibat letusan gnung api yang sangat hebat. Di sebelah timur Bukit Barisan terbentang wilayah dataran rendah yang luas. Wilayah ini dilalui Sungai Musi, Sungai Batanghari, Sungai Roken, Sungai Indragiri, Sungai Siak, dan Sungai Kampar.
2)      Pulau Jawa
Pulau Jawa memiliki deretan gunungapi aktif berajajar tidak teratur di sepanjang pulau seperti Gunung Galunggung di Jawa Barat, Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta Gunung Semeru di Jawa Timur. Secara geologis Pulau Jawa merupakan rawan gempa karena terpengaruh tumbukan lempeng Eurasia dan lempeng Indo – Australia yang melalui proses subduksi.
Batuan dasar di Pulau Jawa diperkirakan terbentuk pada 70 – 35 juta tahun yang lalu. Batuan tersebut tersusun atas batuan malihan dan batuan beku. Batuan dasar di Jawa Barat lebih tua dibandingkan batuan dasar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini disebabkan batuan di Jawa Tengah dan Jawa Timur terbentuk pada akhir proses tumbukan antara lempeng Eurasia dan Indo – Australia yang berlangsung sekitar 20 juta tahun lalu. Peristiwa ini mengakibatkan lempeng Indo – Australia terdesak ke bagian bawah lempeng Eurasia. Pada peristiwa tumbukan tersebut, wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur masih berupa lautan. Bukti bahwa wilayah tersebut lautan yaitu banyak gunung gamping di bagian selatan Pulau Jawa. Gunung Gamping tersebut dahulunya merupakan terumbu karang di lautan. Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang dan menyebabkan terbentuknya deretan gunung api di sebelah barat Pulau Sumatra dan sebelah selatan Pulau Jawa.
3)      Pulau Kalimantan
Secara geologis, wilayah Kalimantan relative aman dari bencana gempa karena tidak dilewati oleh jalur lempeng tektonik. Wilayah Pulau Kalimantan memiliki permukaan datar, kecuali Pegunungan Meratus di tenggara Pulau Kalimantan dan Gunung Kinabalu di utara, sebagian besar wilayah Kalimantan memiliki ketinggian kurang dari 2.000 meter diatas permukaan laut.
Pulau Kalimantan terbentuk dari pecahan benua raksasa pada masa awal terbentuknya permukaan bumi. Dahulu di bumi hanya terdapat stu daratan luas yang bernama Pangaea. Akibat aktivitas tektonik Benua Pangaea terpecah menjadi dua yaitu Gondwana di utara dan Laurasia di selatan. Selanjutnya, kedua benua tersebut terpecah – pecah lagi menjadi benua – benua seperti sekarang. Salah satu pecahan tersebut kemudian menjadi Pulau Kalimntan.
4)      Pulau Sulawesi
Pulau Sulawesi merupakan kunci untuk memahami runtutan terjadinya peristiwa tektonik. Pembentukan Pulau Sulawesi memliki proses yang kompleks yaitu sebagai berikut :
a.       Periode Eosen ( 65 – 40 Juta Tahun Lalu )
Terjadi proses tumbukan antara dua daratan di dekat Pulau Kalimantan yang bersatu menjadi satu dartan baru.
b.      Periode Miosen ( 40 – 20 Juta Tahun Lalu )
Terjadi pergerakan lempeng ke arah barat disertai persesaran.
c.       Periode Pliosen ( 15 – 6 Juta Tahun Lalu )
Proses tektonik masih terus berlangsung hingga mendekat ke barat ke Pulau Kalimantan.
d.      Periode Pleistosen ( 4 – 2 Juta Tahun Lalu )
Terjadi proses pemekaran dasar samudra di laut antara Kalimantan dan Sulawesi yang dikenal sebagai Selat Malaka. Akhirnya daratan Sulawesi terpisah dari dartan Kalimantan. Sampai sekarang masih berlangsung pergerakan tersebut secara perlahan dan konsisten.
5)      Pulau Papua
Pulau Papua terbentuk dari sedimen bebatuan yang diendapkan oleh Benua Australia yang selanjutnya menjadi daratan baru yang menyatu dengan Benua Australia.
Terjadi proses tumbukan antara lempeng Indo – Australia dan lempeng Pasifik yang mengangkat sedimen batuan Pulau Papua ke atas laut. Tumbukan kedua lempeng tersebut menghasilkan busur pulau yang menjadi cikal bakal dari pegunungan di Papua. Pulau ini mulai terpisah dari daratan Australia sejak mencairnya es yang menaikkan permukaan air laut sehingga daratan rendah diantara Papua dan Australia tenggelam dan Papua terpisah dari Benua Australia.

2.     Hasil Observasi
Di Karang Sambung kami mengunjungi 6 tempat yaitu :
1)      Kali Muncar
Kali Muncar berada di desa Seboroh, Kec. Sadang. Di Kali Muncar terdapat singkapan batuan Pillow Lava yang merupakan batuan basalt, termasuk batuan beku. Disebut pillow lava karena menpunyai struktur menyerupai bantal. Singkapan batuan ini berada diatas batauan rijang berselang – seling dengan gamping merah yang termasuk batuan sedimen. Cara membedakan antara gamping merah dan rijang yaitu dengan ditetesi larutan HCl, apabila berbuih merupakan batan gamping merah dan apabila tidak berbuih merupakan rijang. Berbuih karena ada reaksi HCl dengan CaCO3. Batuan ini dulunya berada di dasar samudra. Karena adanya tumbukan benua indo – Australia dan Eurasia batuan yang tadinya berada di dasar samudra kemudian terangkat ke atas dan menjadi diatas bukit. Pillow lava terbentuk dari gunung laut yang meletus kemudian mengeluarkan lava, karena suhu air laut sangat dingin lava tersebut kemudian membeku. Pada batuan rijang terdapat urat – urat yang disebut urat kuarsa. Batuan rijang mengandung fosil – fosil yang sangat kecil yang disebut radiolaria. Fosil – fosil berukuran sangat kecil karena dahulunya merupakan di dasar samudra yang tidak terkena sinar matahari langsung.
2)      Desa Pucangan
Di Desa Pucangan terdapat singkapan batuan serpentinit yang termasuk batuan metamorf. Singkapan ini merupakan akibat dari penunjaman dan pengangkatan lantai samudra. Warna batu ini kehijau mengkilap karena gesekan tersebut. Batu serpentinit dapat digunakan untuk asbes dan bahan dasar bedak. Batuan serpentinit merupakan batuan yang dulunya berada di bawah rijang dan pillow lava.
3)      Daerah Bukit Sipako
Batuan di daerah Bukit Sipako merupakan lempeng benua. Letak singkapan ini berada di seberang sungai Luk Ulo yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Bukit sipako tersusun atas batuan filit yang merupakan ubahan dari batu lempung. Batu ini berguna sebagai isi pensil.
Di tepi sungai Luk Ulo terdapat banyak batuan diantaranya yaitu batuan sekismika, rijang, gamping merah, kuarsit, generis.
4)      Gunung Parang
Gunung Parang terletak di Desa Watu Tumpang. Jenis batuan yang ada yaitu batu diabas. Batuan ini merupakan lempeng benua dan merupakan batuan  beku dalam yang memiliki kolumnar join ( struktur kekar tiang ). Berfungsi sebagai pondasi rumah.
5)      Museum Peraga Batuan dan Bengkel Batuan
Museum Peraga Batuan terletak dan Bengkel Batuan terletak di kantor LIPI. Di dalam museum terdapat banyak batuan – batuan yang sudah dijumpai di lapangan yang telah dimusiumkan serta fosil – fosil kerang, peta atau miniature Karang Sambung, miniatur bumi, dan lain – lain yang masing – masing telah diberi keterangan.
Di Bengkel Batuan terdapat banyak batuan yang dibuat kerajianan seperti kalung, batu akik, serta batu yang dibuat kerajinan lain.

3.     Pembahasan
Pada zaman Tersier sekitar 60 juta tahun lalu, kepulaun Indonesia terbentuk karena adanya rangkaian pergerakan lempeng tektonik yang sangat kuat karena merupakan titik pertemuan tiga lempeng yaitu Lempeng Eurasia, Indo – Australia, dan Pasifik. Aktifitas tektonik tersebut menggerakan ketiga lempeng itu yang akhirnya daratan  menjadi terpecah – pecah menjadi benua – benua. Salah satu daratan yang terbentuk akibat pergerakan lempeng tektonik tersebut adalah  Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, dan Pulau Papua.
Pada zaman Pleistosen, daratan kepulauan Indonesia tertutup oleh lapisan es. Peristiwa ini mengakibatkan perubahan iklim dan penururnan permukaan air laut hingga 100 – 150  m dari titik semula sehingga laut menjadi dangkal dan laut berubah menjadi daratan. Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil Pembelajaran Luar Kelas yang dilaksanakan di Karang Sambung, yaitu dengan adanya pillow lava yang dahulunya merupakan lava yang keluar dari letusan gunung laut yang akhirnya memebeku karena suhu air laut yang sangat dingin. Pillow lava dahulunya berada di dasar samudra, namun sekarang berada di atas bukit karena terjadinya pergerakan lempeng yaitu Eurasia dan Indo – Australia. Batuan pillow lava berada diatas bat rijang berselang – seling gamping merah. Batu rijang mengandung fosil radiolaria yang dulunya hidup di dasar samudra dengan ukuran sangat kecil karena tidak terkena sinar matahari langsung. Sedangkan gamping merah merupakan terumbu karang. Hal ini membuktikan bahwa yang sekarang daratan dahulunnya adalah lautan.
Pada periode Pliosen terjadi pergerakan tektonis yang menyebabkan terangkatnya permukaan bumi yang dibuktikan dengan adanya batuan serpentinit di Desa Pucangan yang merupakan dahulunya adalah kerak samudra yang mengalami penunjaman kemudian terangkat ke atas. Batuan – batuan lain yang dapat dijumpai di museum batuan  dan dapat menjadi bukti adalah batu gamping numulites, lempung berfosil orbitula, dan batu gamping berbentuk keong.











PENUTUP
Kesimpulan
                        Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Pulau Jawa terbentuk karena adanya tenaga tektonik yang diakibatkan oleh dua lempeng yaitu Lempeng Eurasia dan Indo - Australia yang menyebabkan pergeseran yang awal mulanya Pulau Jawa adalah pecahan dari Benua Asia. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai jenis batuan yang diamati di Karang Sambung.




















DAFTAR PUSTAKA
Djaja Wahjudi, Mulyadi, Rahata Ringgo. 2014. Sejarah Indonesia. Klaten. Intan Pariwara. 























LAMPIRAN
1.      Kali Muncar
a.       Pillow Lava
b.      Singkapan Batuan Rijang Berselang – seling Gamping Merah
c.       Bongkahan  sekismika
2.      Desa Pucangan
a.       Serpentinit
3.      Bukit Sipako
a.       Batuan Filit
b.      Batuan di Tepi Sungai Luk Ulo
·         Batu sekismika

·         Batu Konglomerat

·         Batu Kuarsit

·         Batu Pasir

·         Batu Gneiss

·         Rijang

·         Gabbro


4.      Gunung Parang
·         Batu Diabas
5.      Museum Batuan dan Bengkel Batuan

·         Batu Gamping Numulites

·         Batu Lempung Berfosil Orbitulina
·         Sekismika
·         Fosil Kerang